KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK SMP
PERKEMBANGAN PESERTA
DIDIK
1.
Pengertian Dan Ruang Lingkup Anak Usia SMP
Remaja
dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa adolescere yang
berarti “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Perkembangan lebih
lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti mencakup kematangan
mental, emosional, sosial dan fisik.
Secara
umum remaja dapat didefinisikan sebagai suatu tahap perkembangan pada individu,
dimana remaja mengalami perkembangan biologis, psikologis, moral dan agama.
Remaja juga merupakan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa. Dapat dikatakan
juga, bahwa remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak menuju dewasa.
Untuk
memudahkan identifikasi, biasanya masa remaja dibatasi oleh waktu tertentu,WHO
membagi 2 tahap usia remaja yaitu:
Remaja
Awal : 10 – 14 tahun
Remaja
akhir : 15 – 20 tahun
Oleh
karena itu, anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) dapat dikategorikan
sebagai anak usia remaja awal. Pada umumnya ketika usia Sekolah Menengah
Pertama (SMP) adalah masa remaja awal setelah mereka melalui masa-masa
pendidikan Sekolah Dasar. Remaja awal ini berkisar antara umur 10-14 tahun.
Masa remaja awal atau masa puber adalah periode unik dan khusus yang ditandai
dengan perubahan- perubahan perkembangan yang tidak terjadi dalam tahap-tahap
lain dalam rentang kehidupan.
2.
Ciri-ciri Masa Remaja
Masa
remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang
cepat baik secara fisik maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi
selama masa remaja.
a. Ciri
Fisik/Biologis
Pada
saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi
pertama pada remaja perempuan dan perubahan suara pada remaja laki-laki. Saat
itu, secara biologis remaja mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas
menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.
Pada
masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis
hormon (gonadotrophins ataugona dotrophic hormones) yang saling berhubungan
dengan pertumbuhan, yaitu : 1) Follicle–Stimulating Hormone (FSH); dan
Luteinizing Hormone (LH).
Pada
anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhanestrogen dan
progesterone; dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak laki-laki,
luteinizing hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone
(ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari
hormon- hormon tersebut diatas merubah sistem biologis seorang anak.
Anak
perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa system reproduksinya
sudah efektif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai
berkembang. Anak laki-laki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot dan
fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormone testosterone. Bentuk
fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa
mereka pada dunia remaja.
b. Ciri
Psikologis
Secara
umum, dari sisi psikologis seorang remaja memiliki beberapa ciri sebagai
berikut:
1)
Kegelisahan
Remaja
mempunyai banyak idealisme angan-angan atau keinginan yang hendak diwujudkan di
masa depan. Akan tetapi sesungguhnya remaja belum memiliki banyak kemampuan
yang memadai untuk mewujudkan semua itu. Tarik menarik antara angan yang tinggi
dengan kemampuan yang belum memadai mengakibatkan mereka diliputi perasaan
gelisah.
2)
Pertentangan
Pertentangan
pendapat remaja dengan lingkungan khususnya orang tua mengakibatkan kebingungan
dalam diri remaja itu sendiri maupun pada orang lain.
3)
Mengkhayal
Keinginan
menjelajah dan berpetualang tidak semuanya tersalurkan. Biasanya terhambat dari
segi biaya, oleh karena itu mereka lalu mengkhayal mencari kepuasan. Khayalan
ini tidak selamanya bersifat negatif, justru kadang menjadi sesuatu yang
konstruktif. Misalnya munculnya sebuah ide cemerlang.
4)
Aktivitas kelompok
Berbagai
macam keinginan remaja dapat tersalurkan setelah mereka berkumpul dengan rekan
sebaya untuk melakukan kegiatan bersama.
5)
Keinginan mencoba segala sesuatu
Remaja
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (high curiosity), mereka lalu menjelajah
segala sesuatu dan mencoba segala sesuatu yang belum pernah dialaminya.
Ciri-ciri
penting pada masa remaja awal atau anak SMP sebagai berikut :
a.
Pada masa ini terjadi kematangan alat-alat seksual
Dengan
tumbuh dan kembangnya fungsi-fungsi organ maka ciri- ciri seks sekunder mulai
berkembang seperti tumbuhnya rambut pubis dan timbulnyajakun pada anak
laki-laki. Sedangkan pada anak perempuan mulai memasuki masa menstruasi dan
mulai tumbuhnya buah dada. Dengan adanya kedewasaan biologis ini, remaja
memiliki kemampuan biologis yang sama dengan orang-orang dewasa lainnya dalam
hal reproduksi.
b.
Masa remaja awal merupakan periode yang singkat
Dibandingkan
dengan banyaknya perubahan yang terjadi di dalam perkembangan manusia maka masa
puber merupakan periode yang paling singkat, yaitu sekitar dua sampai empat
tahun pada usianya.
c.
Masa remaja awal merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat
Perubahan-perubahan
yang pesat ini akan menimbulkan dampak pada anak. Misalnya timbul keraguan,
perasaan tidak mampu dan tidak aman dan dalam beberapa hal memungkinkan
timbulnya perilaku negatif.
d.
Masa remaja awal merupakan masa negatif
Pada
masa ini anak cenderung mengambil sikap anti terhadap kehidupan atau kehilangan
sifat-sifat baiknya yang pada masa sebelumnya sudah berkembang. Kondisi ini
merupakan sesuatu yang wajar. Beberapa ahli psikologi perkembangan menyebut ini
sebagai masa negatifistik kedua.
3.
Perkembangan anak usia SMP
Selama
di SMP/ MTs seluruh aspek perkembangan manusia yaitu kognitif, afektif dan
psikomotorik mengalami perubahan sebagai masa transisi dari masa anak-anak
menjadi masa dewasa. Masa remaja dan perubahan yang menyertainya merupakan
fenomena yang harus di hadapi oleh guru.
a.
Perkembangan aspek kognitif
Arajoo
T.V (1986) menyatakan bahwa aspek kognitif meliputi fungsi intelektual seperti
pemahaman, pengetahuan dan ketrampilan berpikir. Untuk siswa SMP perkembangan
kognitif utama yang dialami adalah formal operasional, yang mampu berpikir
abstrak dengan menggunakan simbol-simbol tertentu atau mengoperasikan
kaidah-kaidah logika formal yang tidak terikat lagi oleh objek-objek yang
bersifat konkrit, seperti peningkatan kemampuan analisis, kemampuan
mengembangkan suatu kemungkinan berdasarkan dua atau lebih kemungkinan yang
ada, kemampuan menarik generalisasi dan inferensasi dari berbagai kategori
objek yang beragam. Selain itu ada peningkatan fungsi intelektual, kapabilitas
memori dalam bahasa dan perkembangan konseptual. Dengan kata lain, bahasa
merupakan salah satu alat vital untuk kegiatan kognitif.
b.
Perkembangan aspek afektif
Menurut
Arajoo T.V (1986), ranah afektif menyangkut perasaan, modal dan emosi.
Perkembangan afektif siswa SMP mencakup proses belajar perilaku dengan orang
lain atau sosialisasi. Sebagian besar sosialisasi berlangsung lewat pemodelan
dan peniruan orang lain.
c.
Perkembangan psikomotorik
Wuest
& Combardo (1974) menyatakan bahwa perkembangan aspek psikomotorik seusia
SMP ditandai dengan perubahan jasmani dan fisiologis sex yang luar biasa. Salah
satu perubahan luar biasa tersebut adalah perubahan pertumbuhan tinggi badan
dan berat badan, sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali
mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka, dan kadang
mengalami proses pencarian jati diri
4.Peran
Lingkungan Terhadap Pembelajaran Anak SMP
Konsep
belajar behavioristik memandang manusia sebagai produk lingkungan. Begitupun
dalam kasus ini, faktor-faktor lingkungan sekitar mempunyai peran penting dan
andil yang kuat dalam proses pembelajaran seorang siswa secara umum, khususnya
siswa SMP.
1.
Lingkungan Keluarga
Lingkungan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan anak, khususnya
lingkungan keluarga, karena sejak kecil anak hidup bersama keluarga. Menurut
Zakiah Daradjat, bahwa ” pendidikan pertama dan utama bagi anak adalah dalam lingkungan
keluarga,”. Situasi lingkungan tersebut memberikan andil bagi aktivitas belajar
anak.
Keluarga
merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anak dan
remaja. Pendidikan keluarga lebih menekankan pada aspek moral dan pembentukan
kepribadian dari pada pendidikan untuk menguasai ilmu pengetahuan. Dasar dan
tujuan penyelenggaraan pendidikan keluarga bersifat individual sesuai dengan
pandangan hidup keluarga masing-masing, ada keluarga dalam mendidik anaknya
mendasarkan pada kaidah-kaidah agama dan menekankan proses pendidikan agama.
Ada pula keluarga yang dasar dan tujuan penyelenggaraan pendidikannya
berorientasi pada kehidupan sosial dan ekonomi kemasyarakatan dengan tujuan
untuk menjadikan anaknya menjadi orang yang produktif dan bermanfaat dalam
kehidupan bermasyakarat.
Anak
dan remaja di dalam keluarga berkedudukan sebagai anak didik dan orang tua
sebagai pendidiknya. Banyak corak dan pola penyelenggaraan pendidikan keluarga,
yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga pola pendidikan, yaitu
pendidikan otoriter, pendidikan demokratis dan pendidikan liberal. Dalam
pendidikan yang bercorak otoriter anak-anak senantiasa harus mengikuti apa yang
telah digariskan oleh orang tuanya, sedang dalam pola pendidikan liberal, anak-
anak dibebaskan untuk menentukan tujuan dan cita-citanya. Kebanyakan keluarga
di Indonesia mengikuti corak pendidikan yang demokratis. Makna pendidikan yang
demokratis itu oleh Ki Hajar Dewantara dinyatakan bahwa penyelenggaraan
pendidikan itu hendaknya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut
wuri handayani, yang artinya : Di depan memberi contoh, di tengah membimbing
dan di belakang memberi semangat.
2.
Lingkungan Masyarakat
Masyarakat
adalah lingkungan alami kedua yang dikenal oleh anak- anak dan remaja. Remaja
telah banyak mengenal karakteristik masyarakat dengan berbagai norma dan
keberagamannya. Kondisi masyarakat amat beragam, tentu banyak hal yang harus
diperhatikan baik oleh remaja maupun oleh orang tuanya.
Dalam
menjalankan fungsi pendidikan, masyakarat banyak membentuk/ mendirikan
kelompok-kelompok atau paguyuban atau kursus yang secara sengaja disediakan
untuk anak dan remaja dalam upaya mempersiapkan hidupnya di masa depan. Seperti
contoh, Karang Taruna, pengajian TPA, kursus komputer berskala desa, atau
pelatihan-pelatihan yang bersifat ekonomis yangprofitable merupakan produk
nyata pembelajaran di masyarakat.
3.
Lingkungan Sekolah
Sekolah
merupakan lingkungan artificial yang sengaja diciptakan untuk membina anak-anak
kearah tujuan tertentu, khususnya untuk memberikan kemampuan dan ketrampilan
sebagai bekal kehidupannya di kemudian hari. Lingkungan sekolah merupakan
pengaruh besar dalam pembentukan pemikiran manusia untuk menguasai ilmu
pengetahuan.
Dilingkungan
sekolah ini, remaja mendapat suatu pelajaran dan pengalaman yang berharga yang
menjadi bekal untuk langkah-langkah pembelajaran di kehidupan selanjutnya.
Sekolah diharapkan memberikan suatu wadah bagi pengembangan secara keseluruhan
baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dibentuknya unit-unit
kegiatan siswa (UKS), memfasilitasi sarana dan prasarana yang memadai seperti
sarana olahraga, musik maupun berdasarkan potensi-potensi lain.
Setiap
anak tentunya menpunyai karakteristik yang berbeda- beda. Siswa adalah pembelajar
yang unik, berbagai kemampuan ada dalam diri mereka. Tinggal bagaimana guru
menyikapinya dalam proses belajar mengajar. Tentunya dalam mengajar, guru harus
memahami setiap karakteristik siswanya.
Sedangkan
pengertian mengajar adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide,
keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya dengan
cara- cara bagaimana belajar (Joyce&Well,1996). Jadi, guru bukan sebagai
sumber utama dalam pemerolehan informasi. Disini siswa dapat mencari berbagai
sumber informasi lain, misalnya dengan media elektronik, dengan orang tua,
teman, dan lainnya.
Dalam
pembelajaran guru menempatkan siswa( peserta didik) sebagai subjek bukan objek.
Dalam pembelajaran, guru sering menyuruh siswa untuk menghafal, mempelajari
suatu pelajaran sampai ia bisa. Kemudian siswa disuruh menghafal dan guru
mendengarkan. Belajar bukan hanya dengan hapalan. Biarkan siswa belajar dengan
gayanya sendiri. Siswa bukan mesin yang dapat di setting sesuai dengan apa yang
kita inginkan. Biarkan saja siswa untuk mengeluarkan kreativitasnya. Dengan
demikian siswa akan memahami jika ia butuh akan “belajar”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar